Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi Awasi Rumah Sakit Swasta Terkait Dugaan Pelanggaran Etika di IGD

oleh -7 views
oleh

WARTAWIDYA.com – Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi melakukan kunjungan pengawasan ke salah satu rumah sakit swasta di Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Kamis (8/1/2026). Kunjungan tersebut dilakukan sebagai respons atas isu yang mencuat di media sosial serta laporan masyarakat terkait dugaan perilaku tidak pantas tenaga kesehatan saat melayani pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi, Ferry Supriyadi, menegaskan bahwa pengawasan terhadap fasilitas layanan kesehatan merupakan agenda rutin Komisi IV. Namun, pengawasan kali ini difokuskan pada upaya klarifikasi terhadap peristiwa yang menjadi perhatian publik.

“Pengawasan terhadap rumah sakit ini rutin biasa kami lakukan. Tapi hari ini ada beberapa poin yang kami dalami karena adanya isu yang beredar di media sosial dan laporan yang masuk ke Komisi IV,” kata Ferry kepada media.

Berdasarkan hasil penelusuran serta keterangan dari manajemen rumah sakit dan tenaga kesehatan, Ferry menyampaikan bahwa kejadian tersebut memang terjadi dan diakui oleh pihak rumah sakit. Insiden itu berlangsung pada Sabtu, 3 Januari 2026, sekitar pukul 00.30 hingga 01.00 WIB saat pasien datang ke IGD.

“Dalam rentang waktu sekitar jam satu sampai jam enam pagi, memang terlihat oknum tenaga kesehatan tersebut memegang handphone. Pihak rumah sakit tidak mengelak dan mengakui kejadian itu memang ada,” ujarnya.

Ferry menjelaskan, setelah kejadian tersebut, manajemen rumah sakit segera mengambil langkah dengan mendatangi keluarga pasien untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung.

“Sekitar pukul 07.00 WIB, manajemen bersama tenaga kesehatan yang bersangkutan mendatangi keluarga pasien untuk menyampaikan permintaan maaf secara pribadi,” kata Ferry menceritakan.

“Tenaga kesehatan yang bersangkutan dan pihak manajemen datang langsung meminta maaf kepada keluarga pasien. Pihak keluarga sudah memaafkan dan terjadi islah,” jelasnya.

Sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen dalam menjaga mutu pelayanan, manajemen rumah sakit juga menjatuhkan sanksi kepada tenaga kesehatan yang terlibat.

“Langkah yang diambil berupa konseling dan sanksi skorsing selama satu bulan. Artinya, yang bersangkutan tidak diperbolehkan bertugas selama satu bulan,” kata Ferry.

Dari hasil pengawasan yang dilakukan, Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi memastikan tidak ditemukan pelanggaran dari sisi tindakan medis. Meski demikian, perilaku tersebut dinilai melanggar etika pelayanan kesehatan, terlebih karena terjadi di ruang IGD yang memiliki tingkat sensitivitas tinggi.

“Kalau dari segi praktik kedokteran tidak ada yang dilanggar. Tapi secara etik, di ruang IGD itu situasinya sangat sensitif. Pasien dan keluarga berada dalam kondisi tegang dan berduka, sehingga perilaku tersebut dinilai kurang pantas,” ungkapnya.

Selain menyoroti insiden tersebut, Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi juga melakukan pengawasan terhadap sejumlah aspek lain, mulai dari ketenagakerjaan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga sistem pendukung layanan rumah sakit.

“Alhamdulillah, dari hasil pengawasan kami, aspek ketenagakerjaan, K3, dan lainnya berjalan dengan baik,” tutur Ferry.

Ke depan, Komisi IV mendorong pihak manajemen rumah sakit untuk memperketat pengawasan internal serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Evaluasi menyeluruh, termasuk pemberian pendidikan dan pelatihan tambahan bagi tenaga kesehatan, dinilai penting guna mencegah kejadian serupa terulang.

Ferry menilai respons manajemen rumah sakit tergolong cepat meskipun kejadian terjadi pada dini hari.

“Terjadinya dini hari, tapi pagi harinya manajemen sudah hadir dan langsung mengambil langkah. Mereka mengakui kejadian dan meminta maaf,” ujarnya.

Meski telah diselesaikan secara kekeluargaan, Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi mengingatkan bahwa peristiwa tersebut berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.

“Kami datang untuk memastikan kejadian seperti ini tidak terulang. Dampaknya bukan hanya ke masyarakat, tapi juga ke rumah sakit itu sendiri, karena kepercayaan publik sangat penting,” pungkasnya.

Admin